In the middle of nowhere

img_20160913_115812

Saat hidup lagi kosong, saat itulah saya merasa frustasi. Penyebab dari frustasi sering kali banyak yang dirasakan orang lain. Apalagi seusia saya. 24. Cukup mengkhawatirkan.

Well, di quarter-life crisis ini, apalagi kalau bukan peer pressure. Dan semakin usia bertambah, rupanya peer pressure semakin ketat. Dan hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah mencari berdamai dengan diri sendiri. Sering kali berdamai dengan diri sendiri tidaklah cukup, harus mencari jalan keluar!

Saat masa kontrak kerja saya habis, saya menyambutnya dengan semangat. Saya pikir, inilah saat saya mencari pekerjaan yang lingkungannya sesuai yang saya inginkan. Yang anak muda banget, flat management, dan asik. Meskipun begitu, saya pun masih tidak terlalu yakin dengan jalan yang saya pilih. Bagaimana pun, pekerjaan di perusahaan yang aman dan stabil tetap saya lamar. 2-3 bulan saya melamar, tidak ada respon. Ada pun, penolakan. Saya mulai pasrah. Dari ibukota, pulang ke kampung halaman mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk menyegarkan kembali hati saya yang kecewa. Meskipun begitu, renungan terus memenuhi pikiran saya, bahwa saya menyadari saya tidak benar-benar niat menginginkan pekerjaan-pekerjaan yang saya lamar tersebut, meski usaha saya sama seperti saat saya benar-benar menginginkannya. Berdoa, daftar, lampirkan dokumen, revisi cv dan surat pengantar, ikut tes. Mungkin saja sekarang sedang dijauhkan dari apa yang tidak baik untuk saya.

Jika saya mencoba mengambil simpul sumber dari kefrustasian saya, maka simpul tersebut adalah ketidak mampuan saya memantapkan jalan hidup sesuai dengan nurani saya sendiri. Sebab dari simpul tersebut bisa jadi:

  1. Iri Hati. Saya seringkali masihlah iri atas rezeki yang dipegang orang lain. Padahal agama saya melarang untuk iri dengki atas rezeki saudaranya. Begitu pula sifat tersebut tidak sehat untuk saya. Rasa tersebut begitu menyiksa, dan saya bersedih punya sifat tersebut. Meskipun begitu, menghilangkan sifat ini bukanlah pilihan, melainkan keharusan agar diri sendiri menjadi pribadi yang bahagia. Tidak adanya rasa iri hati atas rezeki orang lain merupakan hal yang harus dipenuhi agar percaya diri menentukan jalan hidup sendiri.
  2. Penghasilan dan pengeluaran. Menentukan jalan hidup yang mungkin berbeda dari kebanyakan dari lingkungan sekitar mungkin akan menimbulkan pengeluaran dan biaya yang tidak familiar. Begitu pula dengan penghasilan. Ketakutan bila penghasilan akan lebih kecil dari biasa yang kita lihat, pun tidak seimbang dengan gaya hidup dan pergaulan.
  3. Pendapat orang lain. Beberapa dari kita mungkin masih memusingkan pendapat orang lain, begitu pula dengan saya. Apa yang terjadi bila saya memilih karir ini? Apa yang orang lain bicarakan jika mereka tahu saya dalam tahap jeda? Apa yang orang lain omongkan bila mereka melihat saya bersusah payah memulai dari bawah? Dan sebagainya, dan sebagainya. Sebenarnya pendapat orang lain paling tidak penting dari hal-hal yang dikhawatirkan. Karena pendapat orang lain lebih sering tidak ada andilnya dalam hidup diri.
  4. Gengsi. Tanpa sadar terjebak dengan gengsi dan pencitraan. Mungkin inilah faktor yang merupakan kombinasi dari sebab-sebab di atas. Gengsi lebih dari pembawa derita, gengsi merupakan kebahagiaan semu atas pencapaian kita. Jika saya mengurung diri, merenungi hidup saya sendiri, harapan saya untuk bisa hidup lebih baik seringkali berkebalikan dari apa yang saya gengsikan.

Dalam kekosongan ini, saya menyempatkan diri menghubungi teman saya. Saya katakan, bahwa sekarang saya memiliki kesempatan untuk merintis yang saya inginkan, namun ternyata saya masih takut untuk menjalaninya. Bayangan akan kawan-kawan yang lebih mandiri, stabil, dan karir yang menanjak terus menghantui saya, seakan merendahkan yang masih memulai dari nol. Teman saya yang merupakan orang medis memberikan jawaban yang cukup ‘ngena’: Bahwa hidup dan apa yang kita punya saat ini bisa diambil kapan saja. Bahkan kemampuan dasar kita sebagai manusia: bergerak, berpikir, makan, minum, pun bisa diambil Yang Kuasa kapan saja. Kita bisa dihadirkan cobaan dalam berbagai bentuk. Dan yang terbaik adalah lakukan yang kita bisa hadapi sekarang.

Saya paham. There’s no excuse. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan yang belum tentu benar, yang belum tentu terjadi. Yang terbaik adalah melakukan hal bermanfaat yang terlintas di benak diri saya sekarang (yang kebanyakan merupakan impian), dan menseriusinya dalam bentuk target dan project. Merupakan kombinasi yang baik antara mimpi dan pelajaran yang didapat dalam proses pendewasaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s