Mendung

Kepulangan saya ke kampung halaman rupanya bertepatan dengan pergantian musim. Dari musim panas, ke musim hujan. Sebenarnya siklusnya biasa saja. Dini hari yang dingin, kemudian suhu naik hingga tengah hari. Sekitar mulai jam 2, harus waspada dengan adanya hujan hingga maghrib. Lepas maghrib hingga tengah malam, hujan santai.

Praktis, waktu saya untuk keluar rumah (dengan berkendara motor) sekitar jam 7 hingga jam 1 siang. Saya mesti pintar mengatur waktu dan merencanakan agenda di luar rumah.

Sejak di ibukota, saya tidak terbiasa naik kendaraan sendiri saat hujan. Agak canggung untuk memulai berkendara sendiri lagi saat hujan di sini. Ketika dulu saya merantau di bandung, berkendara motor saat hujan deras bukanlah masalah. Meski geluduk menggema dan langit gelap, jalanan tetap saja diterjang.Saya bukan satu-satunya yang gigih saat itu.

Dari sini saya mengilas balik beberapa keterampilan saya yang sekarang tidak lebih baik dibandingkan dulu karena tidak diasah. Tidak terbiasa lagi. Dengan ketakutan yang sama, namun penyelesaian yang lebih buruk. Beberapa keterampilan tambahan hasil beradaptasi dengan lingkungan yang baru tidaklah cukup bila harus kembali hidup di lingkungan yang lama. Kemampuan yang baru di diri telah menggeser kemampuan yang lama. Hasilnya, belum tentu bisa dibilang “kemampuan saya bertambah”.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s